Guru-Guru Kabupaten Tegal Berkomitmen Stop Kekerasan Dengan Cara Inovatif
Mengikuti Pelatihan Bersama Yayasan Cahaya Guru, Puluhan Guru di Kabupaten Tegal Berkomitmen Stop Kekerasan

By Iqbaal Harits 01 Okt 2025, 08:33:33 WIB Pendidikan
Guru-Guru Kabupaten Tegal Berkomitmen Stop Kekerasan  Dengan Cara Inovatif

Keterangan Gambar : Foto-foto kegiatan pelatihan Pelatihan Guru Kebinekaan “Mengelola Keragaman, Mencegah Kekerasan” Yayasan Cahaya Guru, Sabtu 13 September 2025. Sumber: Dok. Yayasan Cahaya Guru


Tegal, 13 September 2025 – Puluhan guru SD dan MI di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah berkomitmen untuk mengehentikan kekerasan di satuan pendidikan. Para guru juga akan berencana mengedukasi para murid dengan pendekatan kreatif dan inovatif. Hal tersebut disampaikan pada Pelatihan Guru Kebinekaan (PGK) “Mengelola Keragaman, Mencegah Kekerasan” di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, Sabtu, 13 September 2025. Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru (YCG), Muhammad Mukhlisin menuturkan banyak faktor menjadi penyebab terjadinya kekerasan di satuan pendidikan, mulai dari pengaruh lingkungan, pola asuh keluarga, pengaruh dunia maya, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pencegahan dan penanganannya pun perlu kolaborasi berbagai pihak. Serta tidak boleh hanya memebebankan tanggung jawab pada sekolah. Peran keluarga dan juga masyarakat juga sangat penting untuk mengembankan lingkungan sekolah yang damai dan jauh dari kekerasan. “Maraknya kasus-kasus kekerasan di lingkungan satuan pendidikan perlu direspon dengan mengedepankan prinsip keberpihakan pada korban, kemanusiaan dan non-diskriminasi.” Tegas Mukhlisin. Pada kesempatan itu, YCG berbagi strategi dan metode pencegahan kekerasan salah satunya dengan memahami keragaman anak, sertai berbagai permainan dan kegiatan menarik untuk memahami kekerasan.

Seperti, permainan ular tangga, cocok kata, dan curah pendapat. Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen. Menurutnya, Pendidikan yang berkualitas bukan hanya yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga yang dapat membentuk karakter anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang menghargai keragaman dan saling menghormati. “Kami berharap, melalui pelatihan ini, para guru dapat lebih memahami dan menguasai keterampilan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan inklusif, di mana setiap anak dapat belajar tanpa rasa takut.” ujar Gogot dalam sambutan video pada kegiatan ini. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan sektor swasta. Nur Hakim, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Tegal, menyatakan, "Kami sangat mendukung kegiatan ini sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Tegal. Kolaborasi dengan Yayasan Cahaya Guru dan mitra lainnya membuka peluang besar untuk memperkuat pendidikan di sini." Haryono, SH., M.Pd.I, Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Tegal, juga mengungkapkan, “Kementerian Agama sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen untuk mewujudkan pendidikan yang rahmatan lil alamin, yang menghargai keragaman.” Sementara itu, Kepala Divisi Internal Audit PT. Insight Investments Management, Gusti Pinandhita Arifin, menyatakan pihaknya mendukung kegiatan ini karena sesuai dengan visi misi perusahaan yaitu "Transforming Investment into Social Impact". “Kami mendukung kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas guru dari Yayasan Cahaya Guru sejak 2006, karena kami percaya bahwa melalui kegiatan seperti ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan kita di masa depan” tegasnya. Ilham Marsantyo dari SDN 01 Salapura, salah satu peserta pelatihan menyatakan, bahwa dirinya menjad lebih paham bagaimana menangani kekerasan pada anak jenjang SD atau MI. “Menurut saya sangat penting memberikan pendampingan pada murid korban kekerasan supaya dia bisa kembali ke sekolah dengan aman dan nyaman. Jangan sampai dia merasa takut, khawatir, dan rendah diri sebagai korban kekerasan” pungkasnya. Sementara itu, Nur Ulfa Oktavia Rahma, dari SDN 02 Batu Agung menuturkan dirinya akan membagikan hasil pelatihan ini kepada siswa dan sesama guru di kelompok kerja guru tingkat gugus atau kecamatan. “Dari pelatihan ini, kami sadar, ternyata banyak sikap yang sebenarnya itu kurang tepat. Kami ingin memakai alat peraga dari kegiatan ini untuk edukasi ke murid, dan guru-guru lain” ucapnya. Muhammad Dhofier, founder Sanggar Pendidikan SKI NUFA, Bumi Jawa, Tegal menyatakan sangat mendukung kegiatan ini. Sebagai aktivis pendidikan di Tegal menurutnya, pelatihan ini dibutuhkan untuk menambah wawasan dan keterampilan para guru tentang pencegahan dan penanganan kekerasan. Hal seperti ini minim sekali didapatkan para guru. "Pelatihan Guru Kebinekaan Kabupaten Tegal 2025 perlu menjadi momentun agar guru-guru memiliki kesadaran bahwa kekerasan dapat muncul bermula dari bias pandang dan sikap yang dianggap biasa, padahal itu adalah hal keliru, misalnya candaan/guyonan seksis. Hal seperti ini tidak boleh dianggap sepele" ucap Dhofier. Sebanyak 54 guru dari berbagai sekolah dasar di wilayah Kabupaten Tegal mengikuti Pelatihan Guru Kebinekaan ini. Adapun kegiatan PGK terdiri dari workshop selama satu hari, kemudian pendampingan secara daring oleh YCG, dan implementasi ke para murid di sekolah masing-masing. PGK dengan tema “Mengelola Keragaman, Mencegah Kekerasan ini diinisiasi oleh Yayasan Cahaya Guru, dan didukung oleh PT. Insight Investments Management. Kegiatan serupa telah dilaksanakan di Kabupaten Lebak tahun 2024 lalu. YCG berkomitmen untuk terus membantu guru-guru mencegah kekerasan dan mengembangkan lingkungan yang menghargai keragaman di satuan pendidikan.  




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment